Sabtu, 24 Maret 2018

Mengulik Kehidupan di Tengah Santri

Nama      : Dhea Nur Istiqomah
Kelas       : 2C Perbankan Syariah
Nim         : 175231103
Matkul    : Metodelogi Studi Islam

Essay tentang Pondok Pesantren

Dalam semakin bertambahnya ilmu dan budaya modern yang sekarang kita gandrungi masih banyak juga orang yang masih tetap bertahan didalam pendidikan tradisionalnya. Salah satunya adalah pondok pesantren, karena pondok pesantren adalah tempat dimana pendidikan tradisional khususnya islam diajarkan. Dalam pondok pesantren para santrinya tinggal dan belajar bersama dan tetap selalu dibimbing oleh guru atau kiai. Dan karena saya adalah seorang mahasiswa yang dikelilingi oleh dunia modern yang bahkan belum tau bagaimana seluk beluk pondok pesantren. Dan kali ini saya mendapat tugas untuk tinggal di sebuah pondok pesantren selama dua puluh empat jam. Tugas ini diharapkan agar saya juga bisa mengenal dan mengetahui tentang kehidupan di pondok pesantren.
Proses pencarian pondok pesantren yang tepat tidaklah mudah, apalagi kita diharuskan mencari pondok pesantren yang mempelajari kitab kuning. Saya dan teman satu kelompok bekerja sama dengan kelompok sebelah untuk mencai pondok pesantren. Perjalanan dimulai tepat pukul 8, kami berkumpul didepan kampus IAIN Surakarta. Kami melakukan pencarian dengan memanfaatkan bantuan sebuah aplikasi modern yaitu G-Maps. Dan kemudian kami segera pergi ke tujuan pertama yaitu di pondok pesantren Al-Qurani, namun ternyata disana tidak mempelajari pondok pesantren. Jadi kami melanjutkan perjalanan dan sampailah kami didaerah jebres surakarta kami mengunjungi pondok pesma (pesantren mahasiswa) Ar-Royan di jalan kartika no 1. Namun disana ternyata juga tidak mempelajari kitab kuning. Jadi kami langsung mencari pondok pesantren lagi di google maps, dan akhirnya kami menemukan sebuah alamat untuk ke pondok pesantren Miftahul Khoirot masih didaerah jebres. Sesampainya disana kami bertemu dengan ketua atau pengurus pesantren tersebut ternyata disini kita bisa mempelajari kitab kuning. Kelompok kami akhirnya memilih untuk menjalankan tugas mempelajari kitab kuning di pondok itu saja.
Tak berhenti sampai disitu, karena kami mencari pondok pesantren itu dua kelompok jadi kami masih harus berburu pondok pesantren lagi. Kami langsung mencari pondok lagi di Gmaps kami. Kami menemukan pondok pesantren Nadhlatul Muslimat didaerah dekat pasar klewer sementara dan seperti yang tadi pondok ini tidak mempelajari kitab kuning. Kami istirahat sebentar dan sholat dluhur di pondok pesantren ini. Karena hari sudah siang dan kami sudah lelah dan lapar. Kami memutuskan untuk makan dulu disebuah rumah makan. Didalam rumah makan ini kami memesan mie ayam 5 porsi dan nasi goreng 6 porsi. Selanjutnya kami masih mencari pondok pesantren lagi. Kami menemukan pondok pesantren Al ahad, namun setelah sampai disana pondok itu ternyata sebuah LSM yang membiayai serta menampung anak-anak untuk sekolah umum. Di LSM Al ahad ini mereka tinggal dan belajar tentang islam dan ketika pagi mereka sekolah ke sekolah umum. Tak tinggal menyerah kami langsung mencari lagi. Kami menemukan pondok pesantren Budi Utomo di daerah banjarsari surakarta, tepatnya di jalan bromo rt 4 rw 23 kadipiro banjarsari surakarta. Nah dipondok pesantren ini kami tidak sempat masuk ke dalam. Kami hanya diluar dan bertanya mencari informasi pada pak satpam yang bertugas disana. Dan lagi-lagi pondok pesantren ini tidaklah mempelajari kitab kuning yang ditugaskan. Karena waktu sudah menunjukan pukul 15:30 kami memutuskan untuk sholat ashar disebuah masjid setelah itu kami istirahat sebentar dan berusaha mengumpulkan tenaga juga informasi pondok pesantren mana lagi yang akan kita datangi. Dan setelah cukup lama sekitar pukul 17:00 kami melanjutkan perjalanan ke Lsm Imam Bukhori di daerah karanganyar tepatnya di selokaton gondangrejo karanganyar. Disana seperti yang tadi disana tidak mempelajari kitab kuning, kami sudah putus asa karena saat itu sudah adzan maghrib. Dan bahkan Hp kami sudah kehabisan baterai, jadi kami sudah tidak bisa memakai Gmaps lagi. Kami bahkan menceritakan keluh kesah perjalanan kami kepada ibu pengurus pesantren ini. Namun Allah SWT selalu memberikan jalan bagi mereka yang telah berusaha, ibu pengurus pesantren tersebut miminta kita untuk sholat maghrib terlebih dahulu. Dan setelah itu akan ditunjukan pondok pesantren didekat sana yang kami cari yaitu yang mempelajari kitab kuning. Kami melaksanakan sholat maghrib dan istirahat sebentar, bahkan ibu baik itu juga menawari kita makan. Walaupun sebenarnya kami sangat lapar sekali, namun kami menolak karena takut banyak merepotkan. Sungguh ibu ini sangatlah baik karena kami menolak untuk makan kami malah diberi air putih dan kacang goreng.
Setelah isya kami diantar oleh anak dari ibu baik itu ke sebuah pondok didaerah plesungan gondangrejo karanganyar. Pondok pesantren itu bernama Al-Inshof. Yah dan benar saja disana memanglah mempelajari kitab kuning. Dan perjalanan pencarian pondok kami berakhir disini. Kami telah berhasil menemukan pondok pesantren yang mempelay kitab kuning sesuai yang diperintahkan. Setelah itu kami mengakhiri pencarian dan pulang ke rumah. Dan juga waktu sudah malam sekitar pukul 20:00. Aku dan salah satu teman ku pulang ke sukoharjo namun kami salah arah dan tidak tau dimana. Kami hanya bisa terus berjalan mengikuti arus kendaraan, dan akhirnya kami menemukan rambu plakat arah. Perjalanan yang sangat melelahkan saya tiba dirumah sekitar pukul 21:30. Setelah itu saya mandi dan istirahat.

Pada hari Selasa kelompok kami sowan ke pondok pesantren miftahul Khoirot untuk meminta izin langsung dan menyerahkan surat izin untuk tinggal di pondok pesantren selama 24 jam kepada kiai atau pemilik pondok. Kiai atau ustad pengurus atau pemilik pondok pesantren ini bernama ustad Royali Raudi, beliau dulu adalah lulusan dadi pondok pesantren di madura lalu mengembangkan dan mendirikan pesantren ini. Dan ya kami diijinkan untuk tinggal dan mengikuti kegiatan di pondok pesantren pada hari Rabu 13 Maret 2018. Pada hari rabu kami berkumpul didepan kamus IAIN Surakarta untuk pergi menginap di pondok pesantren miftahul khoirot. Dan pada pukul 09:00 kami telah sampai dan berjumpa di pondok pesantren Mitahul Khoirot.
Kedatangan kami disambut dengan sangat baik, kemudian kami ditunjukan sebuah kamar yang akan digunakan untuk kami beristirahat. Karena kegiatan belajar dilakukan setiap habis sholat maghrib dan sholat subuh. Jadi pada siang hari kami tidak melakukan kegiatan belajar tentang islam. Kami sarapan dengan makanan yang sudah kami bawa. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13:00 setelah sholat dluhur kami diajak untuk memasak menyiapkan makanan untuk para santri disana. Kami diajak salah satu santri disana untuk memasak kangkung dengan porsi yang banyak. Setelah pukul 15:00 kami diajak untuk mengajar TPA di masjid Al Khoir. Karena para santri disini ditugaskan untuk menjadi pengajar TPA di masjid tersebut. Awalnya adek-adek ini sangat takut dengan kedatangan kami namun pada akhirnya mereka begitu senang dengan kehadiran kami disini. Setelah itu kami pulang ke kamar kami dan bersih-bersih mandi dan membersihkan kamar kami. Setelah itu kami melaksanakan sholat maghrib dan diteruskan pembelajaran. Kami sangat bingung dengan apa yang diajarkan disini karena memang kami belum pernah mempelajari sebelumnya. Kami belajar kitab kuning dengan arab gundul didalamnya yang tidak kami mengerti. Proses pembelajaran ini dilakukan sampai jam 21:00. Setelah itu kami diajak untuk makan malam bersama para santi. Tak perlu menunggu lama kami langsung tidur karena memang hari ini sangat melelahkan. Karena kamar sangat sempit untuk kita berenam kami tidur berserakan sebisa kami tidur. Namun ketika pukul 01:00 saya terbangun karena panasnya suhu disana. Ketika pagi tiba kami melakukan sholat subuh dan belajar lagi disana sampai pukul 07:00. Kami sarapan bersama dan setelah itu kami mandi dan bersih-bersih. Sampailah pukul 09:00, tepat kami telah tinggal di pondok pesantren ini selama dua puluh empat jam. Kami segera melakukan wawancara pada salah satu santri disana. Mereka kebanyakan telah lulusan dari sebuah pondok ataupun sekolah islam. Alasan mereka untuk melanjutkan pendidikan di pondok ini adalah karena mereka ingin belajar dan memahami islam dan juga karena mereka sudah terbiasa dengan proses pembelajaran islam. Akhirnya proses life in di pesantren ini sudah berakhir. Kami berpamitan dengan kiai Royali Raodi. Kami juga sempat berfoto dengan beliau, dan kami juga berfoto dengan salah satu santri disana. Sungguh hidup dipesantren itu sangat sulit menurutku karena mungkin belum terbiasa dengan kehidupan disana.

Studi islam klasik yang dipelajari di pondok pesantren ini sangat melekat karena mereka mempelajari kitab kuning namun tetap mengembangkan unsur modern. Disini juga ada kegiatan ekstrakulikuler seperti hadroh,futsal,silat,dan lain-lain. Disini para santrinya sangat ramah dan baik. Mereka selalu mengikuti peraturan dengan baik dipondok pesantren ini.
Refleksi saya tentang pondok pesantren miftahul khoirot yaitu di pondok pesantren itu banyak mempelajari masalah agama. Sedangkan dikampus atau pendidikan formal tidak begitu fokus dengan masalah agama. Didalam pondok pesantren ini saya menemukan banyak hal yang menarik. Misalnya saja mereka ketika berjabat tangan pasti setelah itu mencium tangan mereka masing-masing. Dan didalam pondok pesantren ini saya menemukan banyak kekompakan yang terlihat.




Lampiran





Foto bersama kiai Royali Raudi



Belajar kitab kuning


Latihan hardroh bersama santri pondok miftahul khoirot


Makan bersama santri miftahul khoirot






Kamis, 22 Maret 2018

Lunturnya Eksistensi Jajanan Pasar



 


          Masa modern sangat berpengaruh bagi kebudayaan masyarakat dunia. Masa modernisasi mulai merevolusi berbagai aspek kehidupan mulai dari makanan, pakaian, teknologi dan masih banyak lagi. Tak bisa dipungkiri bahwa modernisasi sangat mempengaruhi perilaku masyarakatnya juga. Dan masyarakat mulai melupakan kebiasaan tradisional yang dulu dilakukan. Salah satu dari hasil perkembangan modernisasi adalah dibidang makanan, makanan adalah sebuah kebutuhan utama atau pokok dari manusia. Namun makanan juga bisa dikatakan sebagai suatu kebudayaan yang mana masyarakat akan mencarinya sebagai objek keindahan untuk dikunjungi. Jadi makanan bukan hanya menjadi kebutuhan khusus atau pokok manusia saja melainkan juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan tersier atau sekedar bermewah-mewahan. Berkembangnya era globalisasi di lingkungan masyarakat Indonesia mempengaruhi rasa kepedulian terhadap kuliner tradisional Indonesia. Hal itu menimbulkan pandangan dari beberapa masyarakat yang berpendapat bahwa makan di restorant modern yang mewah seperti Mc donald, KFC, dan lain-lain akan terasa lebih enak dan bergengsi daripada makan di warung-warung dipinggir jalan yang menjual makanan asli Nusantara. Ini menyebabkan kebudayaan seperti ini akan menggeser makanan tradisional. Dan memungkinkan makanan modern dapat menenggelamkan makanan atau jajanan jaman dulu. Itu karena masyarakat mulai beralih mengkonsumsi makanan modern. Dalam tulisan kali ini akan membahas tentang jajanan pasar tempo dulu yang sudah mulai hilang terkurung oleh makanan modern masa kini.
           Makanan modern yang dijual dengan rasa dan bentuk menarik memang dapat menggoda siapa saja. Apalagi dikalangan anak remaja yang dengan rasa ingin taunya yang tinggi. Dan dengan demikian makanan tradisional sudah tidak diminati lagi. Makanan tradisional yang dulu sempat menjadi primadona diseluruh kalangan pada masyarakat seperti, arem-arem, semar mendem, kue lapis, nogosari, gembukan, onde-onde, klepon, pecel, rengginang, dan masih banyak lagi, makanan ini sering disebut dengan jajanan pasar. Dan makanan tradisional  ini mulai hilang seiring dengan maraknya makanan modern yang menyuguhkan tempat-tempat yang sangat menarik. Karena anak remaja dimasa modern ini sangat menggemari selfie atau foto dengan background yang unik dan bagus kemudian mengunggahnya ke akun media sosialnya. Lagi-lagi ini karena perkembangan dimasa modern yaitu dibidang teknologi. Mereka lebih menyukai background yang bagus atau kepopuleran makanan itu sendiri untuk dipamerkan di media sosial mereka dibandingkan dengan melestarikan budaya Indonesia lewat makanan tradisional.
            Dengan hadirnya makanan modern yang memikat para remaja dan masyarakat awam ini menyebabkan makanan tradisional seperti jajanan pasar sudah tidak lagi disukai oleh banyak orang. Pedagang jajanan pasar atau makanan tradisional tentu sangat merasakan dampaknya. Dahulu jajanan tradisional banyak dicari dan dikonsumsi, namun seiring munculnya makanan baru yang lebih inovasi maka masyarakat mulai enggan melirik jajanan tradisional. Apalagi mayoritas masyarakat sekarang sudah beralih ke makanan modern sebagai makanan sehari-hari mereka. Ini dapat memungkinkan para penjual aneka jajanan pasar sudah mulai berkurang. Itu karena jajanan pasar sudah tidak banyak yang laku terjual. Peran pemerintah tentu sangat diperlukan dalam permasalahan ini, selain untuk mengembalikan eksistensi jajanan pasar pemerintah juga harus tegas dan mengambil sikap untuk lebih mengutamakan pedagang tradisional. Memang jika dibandingkan dengan makanan modern, jajanan pasar tidak memiliki keuntungan yang begitu besar. Namun jika para pedagang tradisional dibimbing untuk melakukan inovasi baru terhadap jajanan pasar itu akan menjadi aset yang besar bagi para pedagang tradisional bahkan untuk pemerintah. Kita sebagai para generasi muda juga harus berani memperjuangkan kembali kebudayaan tradisional yang sudah nenek moyang wariskan kepada kita. Disisi lain ada juga yang sudah mulai menginovasi makanan tradisional, berikut ada beberapa jajanan tradisional yang sudah diolah dengan inovasi baru seperti, arem-arem mie, pepes telur asin, pudding waluh, nagasari coklat, memang tak banyak makanan yang sudah diinovasi, namun dengan demikian adanya inovasi tersebut masyarakat luas mau menerima bentuk lain dari jajanan tradisional. Jadi para penjual harus terus melakukan inovasi agar jajanan tradisional tidak kalah dengan jajanan masa kini yang semakin terus berkembang.
           Meskipun demikian masih ada juga yang menyukai jajanan tradisional untuk dikonsumsi, mungkin mereka ingin bernostalgia tentang makanan tradisional ini dimasa kecilnya yang sempat menjadi primadona. Keberadaan jajanan tradisional dimasa sekarang terkadang sangat dibutuhkan masyarakat dalam beberapa hal seperti saat acara-acara, syukuran dan lain-lain. Namun bila dilihat kembali keberadaan makanan tradisional hanya terlihat disaat acara tertentu saja. Kini jajanan tradisional lambat laun makin digantikan dengan berbagai model makanan yang baru dan lebih menarik.
          Ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh modernisasi bagi kebutuhan dan perilaku masyarakat Indonesia khususnya dan bahkan masyarakat dunia juga. Selama ini memang tak banyak jenis jajanan tradisional yang bisa kita temukan, namun alangkah lebih baik jika kita sebagai generasi muda mau ikut melestarikan dan mengenalkan jajanan tradisional pada masyarakat luas. Dengan cara, jajanan tradisional saat ini perlu dilakukan adanya perubahan atau inovasi dalam bentuk rasa dan kemasan. Kalau ingin eksis dikalangan remaja mau tidak mau tidak mau ya mengangkat jajanan tradisional untuk dijual seperti di Car Free Day (CFD), dan kembali lagi untuk bisa melakukan inovasi karena anak jaman sekarang dijamin menyukai kemasan jajanan yang lucu dan menarik. Selain itu dengan melakukan inovasi maka akan memunculkan sesuatu yang baru dikalangan masyarakat, terlebih lagi dengan mengganti bahan dasar yang mungkin dapat diterima dilidah masyarakat.